Daftar Isi
- 1. Tentukan target pasar dan masalah kulit yang ingin dibantu
- 2. Pilih produk pertama berdasarkan kebutuhan pasar
- 3. Susun konsep produk sebelum mengembangkan formula
- 4. Pahami proses maklon skincare dari awal hingga produksi
- 5. Pahami MOQ dan sesuaikan dengan strategi penjualan
- 6. Rencanakan notifikasi BPOM dan sertifikasi halal sejak awal
- 7. Hitung biaya total peluncuran, bukan hanya biaya produksi
- 8. Bangun kemasan dan klaim yang kredibel
- 9. Siapkan peluncuran sebelum produk selesai diproduksi
- 10. Checklist sebelum menghubungi perusahaan maklon
- 11. Kesimpulan
Punya ide membuat brand skincare sendiri, tetapi bingung harus mulai dari formula, legalitas, kemasan, atau pemasaran?
Anda tidak sendirian. Peluang industri kosmetik Indonesia memang terus berkembang, tetapi persaingan dan tuntutan kepatuhan juga semakin tinggi. Kementerian Perindustrian mencatat jumlah pelaku usaha kosmetik meningkat lebih dari 77%, dari 726 pada 2020 menjadi 1.292 pada 2024. Sekitar 83% di antaranya merupakan perusahaan mikro dan kecil.
Kabar baiknya, Anda tidak harus membangun pabrik sendiri. Melalui maklon skincare, pemilik brand dapat bekerja sama dengan perusahaan manufaktur untuk mengembangkan konsep, formula, sampel, legalitas, produksi, hingga pengemasan.
Namun, keberhasilan sebuah brand tidak dimulai dari memilih bahan aktif yang sedang populer. Fondasinya adalah target pasar yang jelas, produk yang relevan, anggaran realistis, dan mitra produksi yang transparan.
Berikut tahapan yang perlu Anda persiapkan sebelum meluncurkan produk pertama.

1. Tentukan target pasar dan masalah kulit yang ingin dibantu
Kesalahan yang sering terjadi adalah memulai dengan gagasan, “Saya ingin menjual skincare untuk semua orang.” Produk yang terlalu umum akan sulit memiliki alasan kuat untuk dipilih.
Mulailah dengan menjawab empat pertanyaan:
- Siapa pengguna utama produk Anda?
- Masalah atau kebutuhan kulit apa yang ingin dibantu?
- Manfaat utama apa yang ingin ditawarkan?
- Mengapa konsumen perlu memilih produk Anda dibanding produk lain?
Target pengguna dapat berupa remaja dengan kulit berminyak, pekerja urban yang menghadapi kulit kusam, pemilik kulit sensitif, pria yang menginginkan rutinitas praktis, atau konsumen dewasa yang berfokus pada tanda-tanda penuaan.
Setelah itu, rumuskan satu kebutuhan utama dan satu manfaat utama. Contohnya:
- Moisturizer ringan untuk membantu menjaga skin barrier kulit berminyak.
- Facial wash lembut untuk rutinitas harian remaja.
- Sunscreen nyaman untuk penggunaan sehari-hari di iklim tropis.
Posisi yang spesifik akan memudahkan Anda menentukan formula, tekstur, kemasan, harga, klaim, serta arah komunikasi brand.
2. Pilih produk pertama berdasarkan kebutuhan pasar
Tren dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar keputusan.
Untuk brand baru, satu produk unggulan yang mudah dipahami biasanya lebih strategis daripada langsung meluncurkan banyak SKU. Pendekatan ini membantu Anda menguji respons pasar, mengendalikan persediaan, dan menyempurnakan komunikasi tanpa membagi anggaran terlalu jauh.
Pertimbangkan tiga hal saat memilih produk pertama:
- Kebutuhan konsumen: apakah produk digunakan rutin dan menjawab kebutuhan yang nyata?
- Kekuatan konsep: apakah manfaat dan pembeda produk dapat dijelaskan secara singkat?
- Kesiapan bisnis: apakah MOQ, kemasan, harga jual, dan biaya promosinya sesuai kemampuan?
Produk seperti facial wash, moisturizer, sunscreen, dan serum dapat dipertimbangkan karena memiliki peran yang mudah dipahami dalam rutinitas skincare. Namun, pilihan terbaik tetap bergantung pada target pasar dan strategi brand Anda.
3. Susun konsep produk sebelum mengembangkan formula
Mitra maklon akan bekerja lebih efektif apabila Anda datang dengan konsep produk yang terstruktur. Dokumen ini tidak perlu sangat teknis, tetapi sebaiknya memuat:
- Target pengguna dan kebutuhan kulitnya.
- Jenis produk serta manfaat utama.
- Tekstur, warna, aroma, dan hasil akhir yang diinginkan.
- Referensi produk sebagai arah sensori, bukan untuk disalin.
- Preferensi bahan aktif dan bahan yang ingin dihindari.
- Ukuran serta jenis kemasan.
- Kisaran harga jual yang ditargetkan.
- Klaim atau pesan utama yang ingin dikomunikasikan.
- Kanal penjualan utama, misalnya marketplace, klinik, reseller, atau toko sendiri.
Referensi produk membantu menjelaskan pengalaman pemakaian yang Anda inginkan. Namun, formula tetap perlu disesuaikan dengan identitas brand, keamanan, stabilitas, kompatibilitas kemasan, dan ketentuan yang berlaku.
Mintalah sampel, uji pengalaman pemakaiannya, lalu berikan umpan balik yang spesifik. Hindari komentar umum seperti “kurang bagus”. Jelaskan apakah teksturnya terlalu berat, daya serapnya terlalu lambat, aromanya terlalu kuat, atau hasil akhirnya tidak sesuai target.

4. Pahami proses maklon skincare dari awal hingga produksi
Maklon skincare adalah kerja sama ketika pemilik brand mempercayakan proses pengembangan dan produksi produknya kepada perusahaan manufaktur yang memiliki fasilitas serta kompetensi terkait.
Secara umum, tahapannya meliputi:
- Konsultasi konsep dan kebutuhan produk.
- Pengembangan formula dan pembuatan sampel.
- Evaluasi serta finalisasi sampel.
- Pemilihan dan penyesuaian kemasan.
- Persiapan dokumen legalitas.
- Produksi dan quality control.
- Pengisian, pengemasan, dan penyelesaian produk.
- Pengiriman produk siap dipasarkan.
Sebelum menyetujui kerja sama, tanyakan secara terbuka mengenai:
- Minimum order quantity atau MOQ.
- Biaya pengembangan sampel dan ketentuan revisi.
- Komponen yang termasuk dalam penawaran.
- Status atau ketentuan penggunaan formula.
- Pilihan kemasan dan MOQ kemasan.
- Tahapan serta jadwal pembayaran.
- Estimasi waktu pada setiap proses.
- Standar quality control.
- Pendampingan legalitas dan layanan setelah produksi.
Jangan membandingkan calon mitra hanya berdasarkan harga per unit. Transparansi proses, konsistensi mutu, kualitas dokumentasi, serta kemampuan pendampingan dapat sangat memengaruhi risiko bisnis dalam jangka panjang.
Ingin menilai kesiapan produk Anda? Siapkan kategori produk, target pengguna, kisaran harga jual, dan rencana waktu peluncuran. Bawa empat informasi tersebut saat berkonsultasi agar pembahasan awal lebih terarah.
5. Pahami MOQ dan sesuaikan dengan strategi penjualan
MOQ atau minimum order quantity adalah jumlah minimum produk yang dapat dipesan dalam satu kali produksi. Besarannya dapat dipengaruhi oleh jenis formula, proses produksi, bahan baku, ukuran batch, pilihan kemasan, dan ketentuan pemasok.
Karena itu, jangan melihat MOQ hanya sebagai angka stok. Hitung juga:
- Berapa unit yang realistis terjual setiap bulan?
- Berapa lama modal akan tertahan dalam persediaan?
- Apakah masa simpan produk sesuai dengan proyeksi penjualan?
- Berapa anggaran yang masih tersedia untuk pemasaran dan produksi ulang?
Tanyakan MOQ formula dan MOQ kemasan secara terpisah karena keduanya dapat berbeda. Jika anggaran masih terbatas, prioritaskan produk unggulan dan kemasan yang efisien sebelum menambah terlalu banyak varian.
6. Rencanakan notifikasi BPOM dan sertifikasi halal sejak awal
Legalitas bukan pekerjaan yang baru dipikirkan setelah produk selesai diproduksi. Formula, bahan, pemasok, label, klaim, dan dokumen pendukung perlu direncanakan sejak tahap pengembangan.
Kosmetik yang akan diedarkan di Indonesia harus mengikuti ketentuan notifikasi kosmetik BPOM. Penandaan, promosi, dan iklannya juga perlu mengikuti peraturan yang berlaku. Karena itu, hindari klaim absolut atau klaim pengobatan seperti “pasti menyembuhkan jerawat”, “aman tanpa efek samping”, atau “memutihkan permanen”.
Aspek halal juga perlu menjadi perhatian utama. Berdasarkan informasi BPJPH, kosmetik termasuk kelompok produk yang wajib bersertifikat halal mulai 18 Oktober 2026. Kesiapannya dapat melibatkan penelusuran bahan, pemasok, fasilitas, dokumen, dan penerapan sistem jaminan produk halal.
Diskusikan jalur BPOM dan halal bersama mitra manufaktur sejak formula dan kemasan mulai dirancang. Langkah ini membantu mengurangi risiko perubahan bahan, label, atau dokumen pada tahap akhir.
Informasi resmi dapat dipelajari melalui layanan Direktorat Registrasi OTSKK BPOM, Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024, serta informasi wajib halal dari BPJPH.

7. Hitung biaya total peluncuran, bukan hanya biaya produksi
Modal membuat brand skincare tidak berhenti pada biaya produk. Anda juga perlu memperhitungkan:
- Pengembangan sampel.
- Identitas brand dan desain kemasan.
- Pendaftaran merek dan kebutuhan kekayaan intelektual.
- Kemasan primer dan sekunder.
- Legalitas produk.
- Foto, video, dan produksi konten.
- Biaya marketplace dan promosi.
- Pengiriman sampel kepada kreator atau calon mitra.
- Komisi reseller atau afiliasi.
- Gudang, pengemasan pesanan, dan distribusi.
- Dana cadangan untuk produksi ulang.
Susun setidaknya tiga skenario anggaran: minimum layak diluncurkan, target realistis, dan skenario pertumbuhan.
Sisakan cadangan untuk revisi kemasan, perubahan kebutuhan dokumen, keterlambatan bahan, atau penjualan awal yang lebih lambat dari perkiraan. Produk yang berhasil diproduksi tetapi tidak memiliki anggaran pemasaran akan sulit mencapai pasar yang dituju.
8. Bangun kemasan dan klaim yang kredibel
Kemasan perlu bekerja dalam dua situasi: saat dipegang konsumen dan saat tampil sebagai gambar kecil di marketplace atau video vertikal.
Pastikan identitas produk mudah dikenali, manfaat utamanya terbaca, dan informasi wajib telah ditinjau bersama pihak yang memahami regulasi. Nama produk, fungsi, cara pakai, peringatan, daftar bahan, isi bersih, pihak yang bertanggung jawab, kode produksi, masa berlaku, serta informasi legal lain perlu disiapkan secara akurat.
Komunikasikan manfaat kosmetik yang dapat dipertanggungjawabkan dan selaras dengan formula atau pengujian yang tersedia. Brand yang kredibel tidak membutuhkan janji berlebihan untuk terlihat menarik.
9. Siapkan peluncuran sebelum produk selesai diproduksi
Jangan menunggu barang tiba untuk mulai membangun permintaan. Selama proses pengembangan dan produksi, Anda dapat menyiapkan:
- Halaman produk dan daftar tunggu.
- Materi edukasi tentang masalah konsumen.
- Foto konsep dan kalender konten.
- Daftar kreator atau mikroinfluencer yang relevan.
- Panduan reseller dan afiliasi.
- FAQ serta skrip layanan pelanggan.
- Rencana pengiriman sampel.
- Prosedur menangani ulasan dan keluhan.
Konten peluncuran harus menjawab pertanyaan dasar calon pembeli: produk ini dibuat untuk siapa, kebutuhan apa yang dibantu, bagaimana teksturnya, kapan digunakan, apa bahan utamanya, apa pembeda produknya, dan bagaimana cara memasukkannya ke dalam rutinitas.

Checklist sebelum menghubungi perusahaan maklon
Sebelum konsultasi, pastikan Anda sudah memiliki gambaran awal mengenai:
- Target konsumen.
- Masalah atau kebutuhan utama konsumen.
- Jenis produk pertama.
- Manfaat dan pembeda produk.
- Referensi tekstur, aroma, atau hasil akhir.
- Kisaran harga jual.
- Preferensi kemasan.
- Kanal penjualan.
- Kisaran kesiapan anggaran.
- Target waktu peluncuran.
Tidak semua jawaban harus final. Checklist ini membantu tim pengembangan memahami arah brand dan memberikan rekomendasi yang lebih relevan.
Kesimpulan
Cara memulai brand skincare sendiri di 2026 bukan sekadar memilih bahan aktif dan membuat kemasan menarik. Anda memerlukan target pasar yang jelas, produk unggulan yang relevan, konsep formula, perencanaan MOQ dan anggaran, kesiapan BPOM dan halal, mitra maklon yang transparan, serta strategi peluncuran.
SR Cosme Indonesia mendampingi pengembangan produk skincare dari konsep, formula dan sampel, dukungan legalitas, hingga produksi. Jika Anda sudah memiliki ide produk—atau masih mempertimbangkan produk pertama yang paling sesuai—siapkan target konsumen, kisaran harga jual, anggaran, dan rencana peluncuran Anda.
Konsultasi Produk
Siap Mengembangkan Brand Skincare Anda?
Konsultasikan ide produk, target konsumen, kisaran harga jual, dan rencana peluncuran Anda bersama tim SR Cosme Indonesia.
